Selasa, 24 April 2018

Uniknya Tradisi Perang Pandan

Tradisi Perang Pandan Desa Tenganan Bali 


Bukan pulau Bali namanya jika kita tidak berbicara tentang budaya dan adat istiadat yang sangat unik. dan di Bali sendiri budaya itu tidaklah seragam karena ada beberapa adat dan istiadat pada beberapa sudut pulau Bali sedikit berbeda dengan umumnya di Bali. Adalah perang pandan yang hanya bisa ditemui di Desa Tenganan dan mungkin anda juga sudah pernah mendengar atau menyaksikan tradisi unik ini dari media televisi. Bedanya disini saya akan menjelaskan lebih detail tentang tradisi perang pandan desa tenganan bali. Agar anda lebih mengenal lagi tentang budaya unik di Pulau Bali.
Berbicara tentang perang pandan, maka hanya ada satu tempat yang bisa anda tuju untuk menyaksikannya secara langsung. Dialah Desa Tenganan. Desa Tenganan adalah salah satu dari tiga desa utama di pulau bali selain Desa Trunyan dan Sembiran yang penduduknya adalah orang asli bali atau bali aga. Bali aga sendiri adalah penduduk asli di pulau Bali yang sudah mendiami pulau ini sebelum masuknya pengaruh Agama Hindu dan Buddha. Karena penduduk di bali kebanyakan merupakan masyarakat yang datang dari pulau jawa.  Atau disebut juga suku Bali Majapahit, itulah salah satu alasan mengapa adat dan istiadat masyarakat Bali Aga dan Bali Majapahit sedikit berbeda begitu pula dengan tradisinya yang sangat unik seperti perang pandan atau cara penguburan dimana jenazah hanya diletakkan begitu saja dibawah pohon taru menyan seperti di Desa Trunyan.




Sejarah 
Masyarakat Desa Tenganan memiliki kepercayaan yang berbeda dari umumnya masyarakat Bali. Masyarakat di Desa Tenganan menganut agama Hindu Indra. Pemeluk agama Hindu Indra tidak membedakan umatnya dalam kasta. Mereka juga menempatkan Dewa Indra sebagai Dewa tertinggi. Masyarakat Tenganan percaya bahwa desa yang mereka tempati merupakan hadian dari Dewa Indra.
Jaman dahulu daerah Tenganan di pimpin oleh seorang raja yang kejam bernama Maya Denawa. Maya Denawa menganggap dirinya sebagai seorang Dewa. Selain menganggap dirinya Dewa, Maya Denata juga melarang masyarakat Tenganan untuk melakukan ritual keagamaan. Pengakuan Maya Denata sebagai dewa membuat murka para Dewa, kemudian Dewa Indra diutus untuk melawan Maya Denata. Peperangan antara Maya Denata dan Dewa Indra dimenangkan oleh Dewa Indra. Peperangan antara Maya Denata dan Dewa Indra tersebut kini di peringati masyarakat Desa Tenganan dengan upacara perang pandan, karena Dewa Indra adalah dewa perang.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan 
Upacara perang pandan dilaksanakan di Desa Tenganan. Tenganan adalah salah satu desa tertua yang ada di pulau Bali. Desa ini dikelilingi oleh bukit seperti benteng. Ritual perang pandan dilakukan di depan balai pertemuan desa Tenganan. Perang pandan dilakukan setiap bulan kelima atau sasih kalima dalam penanggalan desa adat Tenganan. Ritual perang pandan berlangsung kurang lebih selama dua hari berturut-turut. Upacara ritual ini dilakukan setiap satu tahun sekali. Perang pandan dilaksanakan mulai dari jam 2 sore hingga selesai selama tiga jam.

Alat
Tradisi perang pandan, dilakukan dengan menggunakan pandan berduri sebagai alat atau senjata untuk berperang. Pandan berduri yang digunakan adalah pandan yang sudah diikat sehingga berbentuk seperti gada. Peserta perang pandan juga menggunakan sebuah tameng. Tameng tersebut digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan. Tameng yang digunakan pada perang pandan terbuat dari rotan yang dianyam.
Perang pandan diiringi musik gamelan selonding. Seloding adalah alat musik di daerah Tenganan yang hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan. Alat musik ini juga tidak sembarangan dimainkan, melainkan hanya pada acara tertentu saja. Alat tersebut memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh menyentuh tanah. 

Peserta
Perang pandan dilakukan oleh pemuda desa Tenganan dan luar desa Tenganan. Pemuda dari dalam desa berperan sebagai peserta perang pandan sedangkan pemuda dari luar desa sebagai peserta pendukung. Anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa juga sudah turut ambil bagian dalam upacara ini. Upacara ini juga dapat menjadi simbol seorang anak sudah beranjak dewasa.

Urutan Acara 
Upacara perang pandan didahului dengan mengelilingi desa sebagai wujud permintaan keselamatan kepada Dewa. Setelah mengelilingi desa, kemudian dilanjutkan ritual minum tuak bersama. Tuak kemudian di kumpulkan bersama dan dibuang di sebelah panggung. Pemangku adat akan memberikan aba-aba tanda perang dimulai. Perang dilakukan berpasangan yaitu sejumlah dua orang. Peserta perang pandan akan menari-nari dan sesekali menyabetkan pandan berduri pada peserta lainnya sealam datu menit lalu bergantian dengan pasangan lain. Meskipun tubuhnya berdarah, pada peserta tetap terlihat senang karena hal itu adalah salah satu ungkapan syukur mereka dan cara menghormati Dewa Indra. Setelah perang selesai peserta yang terluka diolesi ramuan tradisional yang terbuat dari kunyit. Acara selanjutnya setelah perang usai adalah melakukan sembahyang di pure. Meskipun peserta terluka tetapi tidak ada dendam di antara peserta. Hal tersebut disimbolkan dengan makan bersama yang menunjukkan kebersamaan. Acara tersebut dinamakan megibung.




14 komentar:

10 Fun and Easy Ways to Learn English

1. Melalui Musik Cara berikutnya tergolong lebih familiar dibandingkan dengan cara yang pertama. Menggunakan metode musik atau lagu mer...